Topeng Berwujud Mimpi


       Topeng dengan judul mimpi merupakan ekspresi kegelisahan dari pengalaman dan pemahaman terhadap berbagai masalah yang seringkali dihadapi dalam rumah tangga Anom. Realitas sosial kehidupan rumah tangganya terbawa dalam mimpi yang pada akhirnya menginspirasi lahirnya penciptaan karya yang menggangkat dunia mimpi. Mimpi yang mengilhaminya itu dijadikan subjek yang artistik dalam karyanya. Penciptaan karya seni kerap muncul sebagai luapan endapan pengalaman estetis. Pengalaman estetik timbul akibat reaksi positif terhadap penangapan lingkungan yang dapat memunculkan perasaan indah termasuk dalam dunia mimpi. Dalam proses mencipta topeng dengan judul mimpi seperti diungkapkan Anom akibat terjadi pergelutan pada dirinya dengan problematik dan tantangan yang ia hayati sendiri, dalam dunia mimpi. Bila dikaji lebih jauh mimpi adalah satu seri bayangan atau gambaran, ide-ide, dan emosi yang dialami oleh seeorang yang sedang tidur. Hampir sepertiga bahkan lebih dari kehidupan manusia pada umumnya dihabiskan untuk tidur. Namun dengan tidur, tidak berarti manusia melewati masa sia-sia, karena tidur menjaga metabolisme tubuh agar tetap stabil. Dengan tidur juga dapat mengakses dunia yang memperantarainya dua alam (fenomena dan abstrak) melalui mimpi. Mimpi juga memiliki manfaat, yaitu sebagai pemenuhan keinginan dan sebagai sumber ilmu maupun penciptaan seni. Mimpi bagi Anom adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang diungkapkan dalam keadaan terjaga dan sebagai bagian dari imajinasi. Anon juga menambahkan, bahwa kecakapan imajinasi itu selalu aktif baik sedang dalam keadaan bangun maupun dalam keadaan tidur. Selama jam-jam bangun kecakapan ini juga disimpangkan oleh kesan-kesan indera (sense impression) untuk melakukan pekerjaannya secara wajar, tapi dalam keadan tidur, ketika indera-indera dan kecakapan lainya sedang istirahat, imajinasi terbangun semua. Anom merasa sangat bersyukur bila dapat mimpi dalam tidurnya, dan dalam tidurnya itu Anom bermimpi bertemu dengan seorang dewi yang sangat cantik.           Kecantikan dewi inilah akhirnya diwujukan kedalam karya seni dengan olahan estetis yang penuh dengan simbol-simbol sebagai ungkapan pribadinya. Dalam mimpinya simbol merupakan bagian paling mengagumkan karena dalam beberapa kondisi, simbol memungkinkan untuk diinterpretasikan tanpa harus mengajukan pertanyaan pada orang yang lain yang kadang-kadang malah tidak bisa memberitahukan apa-apa tentang simbol-simbol itu sendiri, Namum melalui imajinasi yang disertai dengan kemampuan olah seni, Anom dapat mengungkapkan mimpinya ke dalam bahasa rupa dalam wujud topeng bidadari yang bermahkota. Topeng yang diberikan judul mimpi diungkapkan dalam bentuk dewi dengan mahkota dikepalanya. Mahkota merupakan simbol keagungan dari  obyek yang diwujudkan. Mahkota tersebut bertatahkan patra punggel yang diolah sedemikian rupa sehingga terlepas dari unsur-unsur tradisi dan membentuk seni modern yang merupakan olahan pribadinya. Sehingga dalam tampilannya topeng ini dapat memberikan kesan suatu karya seni topeng masa kini  yang dipertegas dengan unsur-unsur estetika modern, yaitu suatu karya seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang, secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui dan lebih mononjolkan  kreativitas dan kepribadiannya. Dalam seni topeng ungkapan Anom yang berjudul mimpi ini memperlihatkan seni yang mengandung unsur pastiche suatu estetika imitasi murni, tanpa pretensi apa-apa dan merupakan penyusunan elemen-elemen yang dipinjam dari perbagai ungkapan seniman masa lalu. Dalam prakteknya topeng yang diungkapkan dalam bentuk olahan mimpi mengambil pelbagai gaya dan bentuk dari kepingan sejarah, mencabutnya dari semangat zamannya dan menempatkan dalam konteks kekinian. Selain itu,simbol-simbol yang diungkapkan dalam topeng ini yaitu simbol kesucian yang terungkap melalui warna putih. Sedangkan warna merah, hijau dan biru dengan kontur warna mas memberikan kesan keberanian yang tulus dan didasari atas keagungan. Inilah yang ingin diungkapkan oleh Anom lewat mimpi-mimpinya dengan harapan orang yang menggunakan topengnya dapat memperlihatkan kecatikan dan keagungan serta kesucian sebagai ungkapan kehidupan masa kini yang harus diperjuangkan untuk mencapai kebahagiaan. Belum banyak orang di Indonesia yang  insyaf  bahwa dalam karya-karya sastra klasik pada umumnya dan sastra daerah pada khususnya, mengandung suatu yang  penting dan berharga, yaitu sebagai warisan rohani bangsa Indonesia (Robson dalam Agastia, 1987, :57) di mana ia merupakan perbendaharaan pikiran dan cita-cita nenek moyang. Memang karya sastra klasik/tradisional yang bermutu mengandung ajaran, suatu pedoman hidup, baik yang termuat secara tersirat maupun tersurat. Dari karangan pikiran ini ungkapan pedoman hidup secara definitif mempunyai implikasi serta dimensi yang luas.
       Pedoman Hidup yang dipancarkan melalui sastra klasik dapat menjiwai segala aspek kehidupan manusia baik aspek ideologis, ekonomi, politik, sosial, seni dan budaya. Dalam hubungan ini, aspek seni (kaya seni) di Bali sangat penonjolan, bagaimana sebenarnya hubungan antara karya sastra dengan karya seni rupa pada umunya dan seni topeng pada khususnya, di sini bukan pada tempatnya untuk dipersoalkan namun setidaknya pernyataan Robson yang dikutif Agastia itu dapat dijadikan pijakan teoritis akan kenyataan bahwa memang sesungguhnya terdapat relevansi yang  harmonis antara karya seni dengan karya sastra (klasik). Di Bali pada hakikatnya merupakan satu kesatuan alamiah yang  tak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain. Antara  yang  satu dengan yang  lain saling mempunyai keterkaitan, saling mengisi dan saling melengkapi. Dalam kaitan ini, Anom mencoba mengungkapkan keterkaitan antara karya sastra (khususnya karya sastra daerah) dengan karya seni topengnya, yang  beragam jenisnya. Jelasnya Anom menempatkan karya sastra daerah sebagai sumber inspirasinya yang diwujudkan kedalam karya-karya seni topengnya.  Lebih lanjut Anom mengatakan secara umum, karya-karya sastra daerah yang ada di Bali dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu karya-karya Sastra Bali dan karya-karya Sastra Jawa Kuno, namun secara fungsional karya Sastra Jawa Kuno (Kawi) itu termasuk dalam khasanah karya sastra Bali. Namun pembagian ini bagi Anom pembedaan atau pembagian ini bukan merupakan masalah. Anom tidak pernah mempersoalkan “ini adalah karya sastra Bali, itu karya sastra Jawa Kuno” yang terpenting bagi mereka adalah “bagaimana mengaplikasikannya atau mengekspresikan karya-karya sastra sastra tersebut ke dalam seni topeng” agar terwujud suatu ciptaan karya seni yang estetis dan bermanfaat. Sebab seni itu harus berfungsi bagi masyarakat dan masyarakat mengambil manfaat dari padanya. Anom sebagai seniman topeng banyak mengambil inspirasi pada karya-karya klasik Jawa Kuna dan Bali. Di antara karya-karya sastra Jawa Kuno yang sedemikian luas dan hebat khasanahnya itu, ada beberapa judul karya sastra Jawa Kuno dan sastra Bali yang dijadikan sumber inspirasi penciptaan karya seni Anom di antaranya “Cerita Bawang Kesuna”. Versi cerita ini sangat banya terdapat di berbagai daerah seperi di Jawa dongeng ini berjudul Bawang Merah dan Bawang Putih. Dongeng ini amat popular dari generasi ke generasi. Bahkan sekarang dibuatkan sinetron oleh salah satu stasiun TV. Meskipun versi sinetron berbeda jauh dari versi dongengnya yang asli, namun itu menunjukkan betapa dongeng klasik dari Indonesia masih mampu menarik perhatian publik. Dalam kisah ini, Bawang Merah

Posting Komentar

0 Komentar